Adanyatempat ibadah umat beragama lain yang berbeda, tetapi letaknya berdekatan membuktikan bahwa ? - 40568933 afaroz240 afaroz240 26.04.2021 PPKn A.menentukan letak benda di kegelapanb. mengelabuhi musuhnyac. menangkap mangsanyad. menyimpan lemak Sebelumnya
Jakarta - Ada beberapa agama yang dianut masyarakat Indonesia sebagai bangsa yang religius. Tiap agama memiliki ciri khas masing-masing, salah satunya rumah ibadah. Tempat ibadah tumbuh subur di Indonesia sesuai kebutuhan umat."Masing-masing agama membangun sarana dan komunitasnya. Gereja, masjid, vihara, pura, klenteng tumbuh berbaur dalam komunitas masyarakat pemeluknya," tulis buku Toleransi Beragama karya Dwi Ananta tersebut menjelaskan nama tempat ibadah Budha, Islam, Kristen, Katholik, Hindu, dan Konghucu serta fungsinya1. Tempat ibadah IslamSelain di rumah, umat Islam biasa beribadah di masjid atau mushola. Masjid berasal dari kata sajada yang artinya tempat sujud, Sedangkan mushola adalah masjid berukuran kecil, yang disebut dengan langgar atau ibadah Islam tak hanya menjadi tempat ibadah bagi muslim. Perayaan hari besar, ceramah, belajar, diskusi, dan kajian bisa dilakukan di masjid. Dalam sejarahnya, masjid juga menjadi sarana aktivitas sosial masyarakat dan Tempat ibadah Kristen dan KatolikUmat kedua agama tersebut beribadah di gereja, yang mudah ditemukan di lingkungan umum. Sama seperti masjid, gereja tidak hanya menjadi sarana ibadah. Tapi juga menjalin komunikasi antar umat dan lingkungan satunya lewat kegiatan sosial yang bertuan membantu masyarakat luas. Misal mengumpulkan makanan dan membaginya pada yang membutuhkan, organisasi amal, bantuan pada tunawisma, dan pendidikan pada segala lapisan Tempat ibadah HinduHindu menjadi agama berikutnya yang dianut masyarakat Indonesia. Tempat ibadah Hindu adalah Pura yang memiliki beberapa klasifikasi dan fungsi. Pura menjadi tempat berdoa pada Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, para dewa, dan roh sebagai tempat ibadah, Pura menjadi sarana melakukan kegiatan sosial. Misal sarana pendidikan moral, mewujudkan rasa bakti, dan belajar berbagai keterampilan yang Tempat ibadah BudhaNama tempat ibadah Budha adalah Vihara atau kerap ditulis Wihara. Layaknya tempat ibadah agama lain, Vihara memiliki banyak fungsi selain sarana berdoa. Salah satunya sarana sosial Vihara lainnya adalah fasilitas pendidikan, pengembangan budaya, dan membangun komunitas umat Budha di Indonesia. Vihara tentunya bukan tempat ibadah asing bagi masyarakat Tempat ibadah KonghucuMasyarakat Indonesia mengenal tempat ibadah Konghucu sebagai Klenteng atau Kelenteng. Keberadaannya tak bisa dilepaskan dari sejarah dan karakter masyarakat Indonesia yang fungsi Klenteng adalah fasilitas ibadah, sarana pendidikan moral dan spiritual, pengembangan budaya, dan kegiatan sosial lainnya. Seperti rumah ibadah lain, Klenteng adalah situs sejarah dan pelestarian budaya tulisan tentang rumah ibadah Budha dan agama lainnya bisa menambah pengetahuan detikers. Simak Video "Kartini, Islam dan Hadiah Pernikahan Tafsir Al-Qur'an" [GambasVideo 20detik] row/lus
Ciamis-. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya meresmikan Kampung Lebak, Kelurahan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, sebagai Kampung Kerukunan, Kamis (21/4/2022). Di kampung ini terdapat empat rumah ibadah yang saling berdampingan. Keempatnya yaitu Masjid Jami Al Muhajidin, Gereja Katolik Santo Yohanes, Kelenteng Hok Tek Bio, dan Litang Khonghucu.
Masjid Istiqlal. Sumber Jakarta Letaknya yang berdekatan, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral merupakan simbol toleransi yang indah. Tak hanya Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral saja yang berdampingan, ada beberapa masjid dan gereja di kota-kota lain di Indonesia yang letaknya juga berdampingan. Toleransi, Mahalini Ikut Puasa Sehari Penuh untuk Temani Rizky Febian FOTO Desa di Ukraina Menjalani Paskah Tanpa Gereja Usai Salat Ied di Masjid Istiqlal, Wapres Ma'ruf Amin Mudik ke Banten Untuk Berlebaran Bahkan kini Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral semakin dekat karena sudah diresmikannya terowongan silaturahmi Istiqlal dan Katedral. Selain desain interior dan eksteriro, fakta menarik lainnya dari terowongan tersebut yakni bisa mempermudah akses parkir jamaah dua rumah ibadah. Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari beragam ras, suku, budaya, adat, dan agama. Lokasi tempat ibadah yang berdampingan menjadi salah satu keindahan bagi antar umat beragama untuk saling tingkatkan rasa toleransi. Malang, Solo, Surabaya merupakan beberapa kota di Indonesia yang terdapat masjid dan gereja yang berdampingan. Beragam kisah menarik soal masjid dan gereja berdampingan ini Berikut merangkum dari berbagai sumber tentang masjid dan gereja yang berdampingan selain Masjid Istiqlal – Gereja Katedral, Selasa 26/4/2022.Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta rampung dibangun. Yuk kita lihat isi dan arti dibalik ornamen yang ada di Masjid Al Hikmah dan GKJ Joyodiningratan Solo, Jawa TengahMasjid dan Gereja Berdampingan. Sumber dan gereja pertama yang berdekatan adalah Masjid Al Hikmah dan GKJ Joyodiningratan di Solo, Jawa Tengah. Masjid Al-Hikmah dan Gereja Kristen Jawa GKJ Joyodiningratan yang terletak bersebelahan di Jalan Gatot Subroto Kratonan Serengan, Solo, Provinsi Jawa Tengah bersama-sama menjaga tolerasi dalam kebersamaan melaksanakan pelaksanaan ibadah. Masjid dan gereja tersebut selalu bekerjasama dalam setiap pelaksanaan ibadah terutama yang menyangkut banyak jamaah. Bahkan antar jamaah saling menghormanti dan menghargai satu sama Masjid Agung Jami dan GPIB Immanuel Malang, Jawa TimurMasjid dan gereja bersanding di Malang / Zainul ArifinMasjid Agung Jami dan GPIB Malang merupakan masjid dan gereja selanjutnya yang tunjukkan indahnya toleransi. Toleransi antarumat beragama di Kota Malang ini tergambar jelas dengan keberadaan Masjid Agung Jami dan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat GPIB di sebelah barat Alun-alun Merdeka Kota Malang. Kedua tempat ibadah yang hanya dipisahkan oleh sebuah gedung umum. Saat perayaan hari besar, pengurus dua tempat ibadah saling mengabarkan dan meminta izin agat terciptanya suasana yang nyaman dan bikin hati adem. Bahkan ketika perayaan Idul Fitri, jamaah Masjid Agung Jami yang tak kebagian tempat di dalam masjid, memilih shalat di pelataran gereja. 3. 6 Rumah Ibadah Saling Berdampingan di Surabaya, Jawa TimurRumah ibadah berdampingan di Surabaya. Sumber enam rumah ibadah saling berdampingan di Surabaya tunjukkan indahnya toleransi. Dalam satu lokasi ada Masjid Muhajirin, Gereja Katolik Kapel Santo Yustinus dan Kristen Protestan GKI Royal Residence, Kelenteng Ba De Miao, Vihara Budhayana Royal Residence, dan Pura Sakti Raden Wijaya. Enam rumah ibadah yang saling berdekatan ini terletak di Perumahan Royal Residence, Wiyung, Surabaya. Uniknya meski berbeda, keenam rumah ibadah yang berdiri dalam satu lokasi berdampingan itu tidak menggunakan pagar atau pembatas lainnya. Sehingga, lokasi rumah ibadah itu terlihat menyatu dengan Masjid Bakhti dan GKPI, Pematang Siantar, Sumatera UtaraMasjid Bakhti dan GKPI, Sumatera Utara merupakan masjid dan gereja selanjutnya yang berdampingan. Masjid Bakhti dan GKPI tersebut terletak Keluaran Pondok Sayur, Kecamatan Siantar Martoba. Rumah ibadahnya berdampingan, warganya yang pun rukun dan saling menghargai satu sama lainnya. Sama seperti masjid dan gereja lainnya yang berdampingan, Masjid Bakhti dan GKPI juga saling memahami ketika hari besar agama Masjid Al Muqarrabien dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim, Tanjung PriokGereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim dan Masjid Al Muqarrabien. Sumber Al Muqarrabien dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim yang berlokasi di jalan Enggano, Jakarta Utara adalah masjid dan gereja selanjutnya yang sudah berdampingan selama 55 tahun. Menurut Ketua Pengurus Masjid, Haji Tawakal, dua bangunan yang didirikan ini hanya selisih satu tahun tersebut di bangun oleh pelaut-pelaut yang singgah di Tanjung Priok. Masjid dibangun pelaut muslim pada tahun 1958, sementara gereja dibuat oleh eorang pelaut beragama Kristen yang dibangun tahun 1957. 55 tahun berdekatan, jamaah dua tempat ibadah ini selalu harmonis dan saling menjaga. Salah satu bentuk tolerasi dua tempat ibadah ini, menurut pengurus masjid yakni pengeras suara di Al Muqarrabien sengaja dipasang menghadap ke arah barat. Sedangkan bangunan gereja berada di sebelah timur.* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
MajelisUlama Indonesia Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memprotes keberadaan sejumlah tempat hiburan dewasa yang. Tren. Jumlah Positif COVID-19 di Indonesia Bertambah 299 Kasus, DKI Jakarta Terbanyak Kapolri-BP2MI Bahas Perlindungan dan Pencegahan Penyeludupan PMI Pemkot Palangka Raya Gencarkan Vaksinasi Anak Sekolah
Katolik - Gereja - Al Kitab Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki beragam aliran kepercayaan dan keagamaan. Di Indonesia, terdapat 6 agama yang diakui, antara lain ada agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Setiap agama di Indonesia memiliki hari raya keagamaannya masing-masing. Pembahasan Beberapa nama kitab suci, nama tempat ibadah, nama hari besar keagamaan/nama hari raya, serta nama upacara keagamaan agama islam, kristen, katolik, hindu, budha, dan konghuchu, antara lain AGAMA ISLAM Nama kitab suci = Al-Qur’an Nama tempat ibadah = Masjid Nama hari raya keagamaan = Idhul Fitri, Idhul Adha, Tahun Baru Hijriyah, Isra Mi'Raj. Nama upacara keagamaan = Jum’atan, Puasa Ramadhan, Maulid Nabi Muhammad ﷺ AGAMA KRISTEN Nama kitab suci = Al-Kitab Nama tempat ibadah = Gereja, Kapel Nama hari raya keagamaan = Natal, Paskah, Pantekosta, Hari Jumat Agung, Kenaikan Isa Almasih, Wafat Isa Almasih. Nama upacara keagamaan = Upacara Paskah, Natal, Angkat Sidi AGAMA KATOLIK Nama kitab suci = Al-Kitab Nama tempat ibadah = Katedral, Gereja. Nama hari raya keagamaan = Natal, Paskah, Pantekosta Nama upacara keagamaan = Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci AGAMA HINDU Nama kitab suci = Weda Nama tempat ibadah = Pura Nama hari raya keagamaan = Nyepi, Saraswati, Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Saraswati Nama upacara keagamaan = Upacara Ngaben, Potong Gigi, Tingkeban, Sedekah Bumi AGAMA BUDHA Nama kitab suci = Tripitaka Nama tempat ibadah = Vihara Nama hari raya keagamaan = Waisak, Asadha, Kathina, Maghapuja, Ulambana Nama upacara keagamaan = Waisak AGAMA KONGHUCHU Nama kitab suci = Shishu Wujing Nama tempat ibadah = Klenteng/Litang Nama hari raya keagamaan = Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Cheng Beng, Peh Cun. Nama upacara keagamaan = Cap Go meh, Cheng Beng, Membagikan Angpau Pelajari Lebih Lanjut Kegiatan Keagamaan di Gereja Kegiatan Keagamaan di Vihara Kegiatan Keagamaan di Kelenteng Detail Jawaban Kelas VII Mapel Ppkn Bab Bab 4 Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika Kode Kata Kunci Hari Raya, Kegiatan Keagamaan, 6 Agama Besar di Indonesia. siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah siapa di sini yang mau jadi pacar gue asal yang agak ganteng jangan lupa nomor nya yah
Dankalau terlewat maka ibadah umrohnya menjadi tidak sah. Nah kali ini saya akan bagikan beberapa tempat yang dikunjungi ketika ibadah Umroh. Tempat-tempat tersebut memiliki sejarah yang amat penting dalam Ibadah. Sebagai bahan evaluasi diri seseorang bagi keimanannya. Berikut tempat-tempat yang harus dikunjungi ketika umroh : 1.
- Masjid Istiqlal berdampingan dengan gereja Katedral. Siapa sangka, ada kisah menarik soal pemilihan lokasi pembangunan Masjid Istiqlal yang berdampingan dengan Gereja Katedral di Jakarta. Sebagian orang mungkin menangkap kesan bahwa dua ikon tempat ibadah tersebut adalah contoh paling mudah untuk menggambarkan toleransi beragama di Indonesia. Namun, kisah di balik hal ini ternyata tidak sesederhana itu. Ide membangun Masjid Istiqlal sebagai masjid nasional sudah muncul sejak tahun 1950 atau tidak lama setelah pengakuan kedaulatan secara penuh dari Belanda kepada Indonesia. Namun, usul ini baru diajukan kepada Presiden Sukarno pada Karno menyambut baik usulan tersebut. Tapi, urusan tak lantas selesai sampai di situ. Pemilihan lokasi pembangunan masjid sempat memantik silang pendapat antara Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad dari buku berjudul Friedrich Silaban 2017 karya Setiadi Sapandi, Hatta menyarankan agar Masjid Istiqlal didirikan di lokasi yang saat ini menjadi tempat berdirinya Hotel Indonesia atau di Jalan Thamrin sekarang. Pertimbangannya, lokasi tersebut berada di lingkungan muslim dan tersedia lahan yang cukup kurang setuju jika masjid nasional itu dibangun di kawasan Pasar Baru lantaran lokasi tersebut banyak terdapat bangunan-bangunan lama peninggalan Belanda. Hatta, tulis Sapandi, beralasan “akan mahal karena harus membongkar bekas benteng” apabila Masjid Istiqlal didirikan di lokasi tersebut. Di sisi lain, Sukarno tetap menghendaki agar pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan di dekat sekitar Pasar Baru, tepatnya di Taman Wilhelmina dan dekat benteng kuno Belanda. Seperti yang dikhawatirkan Hatta, anggaran untuk membangun masjid di tempat itu pasti amat besar. Namun, presiden tetap Bung Karno, masjid nasional harus berdekatan dengan bangunan simbol negara lainnya, seperti Istana Negara. Terlebih lagi, di sekitar lokasi itu berdiri Gereja Katedral. Disebutkan dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia 1972 terbitan Majelis Agung Waligereja Indonesia, pendirian gereja bersejarah ini sudah dilakukan sejak 1892 dan diresmikan pada 21 April Soekarno Masjid Istiqlal Berdampingan dengan Gereja Katedral Sukarno tampaknya ingin menyampaikan pesan bahwa bangsa ini memiliki semangat persatuan dan toleransi beragama yang sangat kuat sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Itulah alasan utama mengapa sang presiden menginginkan Masjid Istiqlal harus dibangun dekat dengan Gereja Katedral yang menjadi pusat kegiatan umat Kristiani di yang terpilih sebagai arsitek pembangunan Masjid Istiqlal bernama Fredrerich Silaban, seorang pemeluk Nasrani dan anak pendeta Kristen Protestan di tanah Batak, Sumatera Utara. Pemilihan ini dilakukan setelah digelar suatu sayembara. Namun, proses pembangunan masjid nasional berjalan lambat karena banyaknya persoalan yang harus dihadapi negara pada saat itu, terutama persoalan-persoalan politik yang berujung pada terjadinya peristiwa Gerakan 30 September G30S 1965. Masjid Istiqlal akhirnya selesai dibangun pada 1961. Saat itu, pengaruh Sukarno sudah meluruh, digantikan oleh Soeharto dengan Orde Barunya. Namun, masjid ini baru diresmikan pada 22 Februari 1978 oleh Presiden Masjid Istiqlal Masjid Istiqlal berlokasi di bekas Taman Wilhelmina, di timur laut lapangan Medan Merdeka yang ditengahnya berdiri Monumen Nasional Monas.Di seberang timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta, ini juga sebagai simbol toleransi antaragama karena lokasinya berseberangan dengan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. Masjid Istiqlal memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja utama masjid dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut selatan selasar tampung Masjid Istiqlal bisa melebihi dari dua ratus ribu jamaah. - Sosial Budaya Penulis Oryza AditamaEditor Iswara N RadityaPenyelaras Yulaika Ramadhani
Duakecambah diletakkan pada dua tempat yang berbeda, yang satu ditempat gelap dan yang lain di tempat terang. Kecambah di tempat gelap akan tumbuh lebih cepat panjang daripada kecambah di tempat terang. Biji akan lebih cepat berkecambah ketika ditempatkan dalam lingkungan yang gelap. Hal ini membuktikan bahwa cahaya berpengaruh terhadap
Surabaya - Hidup rukun dan saling toleransi umat beragama selalu didambakan dalam kehidupan sosial. Bayangkan, tinggal dalam satu wilayah dengan perbedaan keyakinan, namun tetap harmonis dan saling gotong royong dengan tetangga. Adem kerukunan umat beragama di Royal Residence Wiyung, Surabaya yang bisa menjadi contoh toleransi antar umat beragama. Toleransi itu diwujudkan dengan 6 tempat ibadah berbeda yang berdiri saling tempat ibadah tersebut sesuai dengan agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Enam rumah ibadah tersebut adalah Masjid Muhajirin, Vihara Budhayana, Kapel Santo Yustinus untuk umat Katolik, Klenteng Ba De Miao. Kemudian Pura Sakti Raden Wijaya, dan GKI Wiyung Royal Residence untuk umat Kristen. 6 tempat ibadah berdampingan di Surabaya Foto Esti WidiyanaEnam tempat ibadah di perumahan elit ini benar-benar berdampingan dan hanya berjarak sekitar 2 meter satu sama lainnya. Di masing-masing rumah ibadah tidak ada pembatas pagar. Bangunannya menyatu dengan gaya arsitektur masing-masing 2 Forum Komunikasi Antar Rumah Ibadah FKRI Royal Residence Surabaya, Danny Nobret mengatakan warga yang ada di perumahan ini ada di tengah keberagaman. Adanya rumah ibadah yang berdampingan ini justru meningkatkan toleransi."Kami sadar bahwa kami hadir di tengah keberagaman, baik suku, ras dan agama. Sehingga kami merasa nggak pa pa juga rumah ibadah dibuat berjajar. Bukan berarti menjadi satu agama, tapi justru menghargai," kata Danny kepada detikcom, Selasa 21/9/2021.Simak juga 'Peringatan Berdirinya Gong Perdamaian Dunia di Ciamis'[GambasVideo 20detik]
Penduduksuatu daerah terdiri atas etnik Tionghoa dan etnik Arab. Kedua etnik tersebut mampu hidup berdampingan secara damai. Kondisi ini diamati melalui letak toko dan tempat tinggal yang relatif berdekatan. Selain itu, adanya bangunan masjid dan klenteng di sekitar pasar menunjukkan bahwa semua masyarakat mampu menjalankan ibadah masing
Nusa Dua - Indonesia punya banyak bukti hidup antar umat beragama yang rukun dan damai. Di Nusa Dua, Bali ada Puja Mandala, area dimana 5 rumah ibadah saling bersebelahan dengan agama seharusnya tidak menjadi halangan bagi masyarakat Indonesia untuk hidup dengan damai. Jika berkunjung ke daerah Nusa Dua di Bali, sempatkanlah mampir ke Puja Mandala untuk melihat salah satu bukti damainya perbedaan agama yang beriringan dengan Mandala merupakan sebuah komplek area rumah ibadah lima agama sekaligus. Dimulai dari yang kiri ke kanan, adalah Masjid Agung Ibnu Battutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Vihara Buddha Guna, Gereja Protestan GKPB Jemaat Bukit Dua serta Pura Jagatnatha. Melihat lima rumah ibadah yang saling berjajar di satu area Puja Mandala, sungguh sangat menyejukkan hati. Hanya kurang kelenteng yang merupakan tempat ibadah umat Konghucu saja, maka lengkaplah semua tempat ibadah dari enam agama yang diakui di Indonesia.Randy/detikTravelSekilas, kondisi tersebut mengingatkan akan Bukit Kasih di Minahasa yang juga memiliki lima tempat ibadah sekaligus dalam satu tempat. Kesejukan yang sama juga dapat dilihat dari lokasi Gereja Katedral Jakarta dan Masjid Istiqlal serta beberapa lainnya yang terletak lokasi rumah ibadah yang berjajar, komplek rumah ibadah Puja Mandala juga saling berbagi parkiran untuk kendaraan. Jadi ke mana pun Anda beribadah, parkirnya tetap di dalam satu area bersama yang telah Mandala juga menjadi simbol dari toleransi antar umat beragama di Bali. Di tengah peristiwa pembakaran masjid hingga gereja yang belakangan terjadi, dapat melihat tempat ibadah yang saling berjajar memang sungguh menyejukkan.Randy/detikTravelBahkan tidak sedikit turis yang singgah ke Puja Mandala untuk melihat keunikannya. Selain mengagumi toleransi yang ada, tidak sedikit juga yang berfoto di depan sejumlah rumah ibadah. Salah satu yang menjadi favorit adalah Vihara Buddha Guna yang tampak seperti vihara di Thailand dengan ornamen keemasan serta patung Dewata Bali memberi contoh toleransinya yang tinggi antar umat beragama. Sekiranya hal tersebut juga dapat menjadi contoh bagi saudara-saudara setanah air di daerah lain Indonesia, bahwa perbedaan bukan menjadi halangan untuk berjalan beriringan dan saling mengerti satu sama mau mampir, komplek rumah peribadatan Puja Mandala berada di daerah Nusa Dua. Lokasinya berada tidak jauh dari STP Hotel atau Sekolah Tinggi Pariwisata. Perbedaan itu indah!Randy/detikTravel rdy/fay
Kawangkoandi Sulawesi Utara bisa menjadi contoh kedamaian antar umat beragama. Di sini, ada 5 rumah ibadah yang berdiri berdampingan. Sekitar 2 jam dari Manado, ada daerah bernama Kawangkoan. Selain penghasil kacang panggang yang enak, di sini juga ada objek wisata yang menjadi inspirasi kedamaian. Bernama Bukit Kasih, ini adalah contoh
Jakarta - Antara Jakarta dan Kota Ferizaj di Kosovo terbentang jarak km lebih. Tapi ada satu hal yang menyamakan dua kota itu keduanya memiliki gereja dan masjid yang saling bertetangga, sebagai simbol kerukunan antarumat beragama. Di Kosovo, yang terimbas terbelahnya Yugoslavia dalam perang pada 1990-an. Kosovo pun bergolak, Kristen dan Islam pun bentrok, mewarisi konflik panjang dua agama di wilayah Balkan simbol dua agama itu pernah rukun terdapat di Kota Ferizaj, di mana Gereja Ortodoks Serbia dan sebuah masjid berdiri bersama. Dinukil dari Atlas Obscura, identitas agama ini telah berubah menjadi identitas nasional, karena orang Serbia didominasi Kristen sedangkan Albania, yang merupakan mayoritas Kosovar, adalah Muslim. Mereka semua hidup di Ferizaj dalam bahasa Albania atau Urosevac dalam bahasa Serbia, terletak di Kosovo selatan. Di kota itu, sebuah masjid, yang dikenal sebagai Masjid Madhe, dibangin pada tahun 1890-an, pada masa Kekaisaran Ottoman. Namun dihancurkan oleh pembom Jerman selama Perang Dunia saat ini selesai dibangun kembali pada tahun 1943 dan peningkatan pembangunan, termasuk menara kedua, diselesaikan paling lambat tahun 2013. Lalu, Pada akhir 1920-an, diputuskan bahwa gereja Ortodoks Serbia akan dibangun di halaman yang sama dengan masjid. Kemudian bernama Gereja Kaisar Suci Uros, yang didedikasikan untuk Kaisar Serbia Uros bertahun-tahun, perselisihan dan konflik memakan korban bangunan gereja, termasuk penjarahan dan kebakaran setelah dimulainya Perang Kosovo pada tahun 1999. Grafiti umumnya ditemukan di temboknya sampai hari ini. Namun, secara umum, halaman yang menampung dua ideologi yang tampaknya bertentangan itu berlangsung dengan Di Indonesia, terdapat Masjid Agung Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta yang saling bertetangga. Dinukil dari pada 1950-an, Bung Karno menginginkan sebuah masjid nasional yang berdekatan dengan bangunan simbol negara lainnya, seperti Istana Negara. Disebutkan dalam buku 'Sejarah Gereja Katolik Indonesia' 1972 terbitan Majelis Agung Waligereja Indonesia, pendirian gereja bersejarah ini sudah dilakukan sejak 1892 dan diresmikan pada 21 April warga berjalan menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan Salat Idul Adha seusai memarkir kendaraan bermotornya di Gereja Katedral, Jakarta, Ahad, 11 Agustus 2019. Selain menyediakan tempat parkir, otoritas gereja juga mengubah jadwal ibadah misa Minggu dari pukul WIB menjadi pukul WIB untuk menghormati umat muslim yang merayakan Hari Raya Idul Adha pada Minggu, 11 Agustus 2019. ANTARA/Aprillio AkbarDengan dua rumah ibadah yang bertetangga, Bung Karno ingin menyampaikan pesan bahwa bangsa ini memiliki semangat persatuan dan toleransi beragama yang sangat kuat, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bahkan, yang terpilih sebagai arsitek pembangunan Masjid Istiqlal bernama Fredrerich Silaban, seorang pemeluk Nasrani dan anak pendeta Kristen Protestan di tanah Batak, Sumatera Utara. Pemilihan ini dilakukan setelah digelar suatu saat ini, dua rumah ibadah itu menjadi landmark kota, baik di Jakarta maupun di Ferizaj. Keduanya juga menjadi destinasi wisata kota, di mana turis bisa menikmati kemegahan gereja dan masjid sekaligus.
TempatIbadah Dibangun Berdekatan, Rutin Gelar Acara Keagamaan. Selasa, 10 September 2019 12:49 wib. 584. 2 menit. Facebook. Twitter. WhatsApp. Mencetak. Copy URL. Disampaikannya, atas kasus itu ada hikmah yang bisa dipetik, salah satunya kebersamaan warga yang sudah teruji, kemudian semangat nasionalisme yang benar-benar harus diwujudkan
Gereja dan masjid di DiyarbakiFoto DWSuatu saat seorang pejabat pemerintah Tiongkok Republik Rakyat Cina mendengar kabar bahwa ada pengurus majelis sebuah agama di negaranya yang membangun sebuah rumah ibadah yang sangat megah, indah, dan elok. Mungkin lantaran tidak berkenan, sang pejabat tadi menemui pengurus majelis yang kaya-kaya itu dan mengajak mereka keliling jalan-jalan melihat pemukiman penduduk di sekitar rumah ibadah tersebut. Oleh pejabat tadi, mereka diajak blusukan masuk ke dalam kompleks perkampungan melewati gang-gang sempit, lorong-lorong kumuh, dan rumah-rumah penduduk yang kusam dan saling berhimpitan. Tak pelak, bau busuk sampah dan got mampet pun menyengat hidung. Sang pejabat kemudian mengajak pengurus majelis masuk ke sebuah rumah reot nan kumuh. Mereka pun kaget terperangah melihat keadaan rumah itu berlantai tanah, kotor, bau pengap, penerangan ala kadarnya, dan barang-barang berserakan di segala sudut ruangan. Sebuah meja makan kecil dipenuhi piring kotor. Lauk dan sisa-sisa makanan berceceran di samping sebuah keranjang berisi seekor kucing tua yang sedang tiduran. Seorang ibu dan anaknya juga terlihat tidur di atas tikar kumal dengan “ditemani” lalat-lalat yang beterbangan di sekitarnya. Sang pejabat menoleh ke arah pengurus majelis yang masih terperangah dan ternganga seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mata. Sejurus kemudian sang pejabat pun bertanya kepada mereka “Apakah menurut kalian,Tuhan lebih suka melihat rumah-Nya dibangun dengan super mewah atau rumah hamba-hamba-Nya dibangun dengan agak layak, baik, dan sehat?" Pengurus majelis pun tak bersuara. Diam membisu. Penulis Sumanto al Qurtuby Foto S. al Qurtuby Berjubelnya Tempat-tempat Ibadah Penggalan kisah ini saya dapatkan dari sahabat karibku, Harjanto Halim, seorang pengusaha Tionghoa yang dermawan, filantropis, dan gemar membangun persaudaraan universal dengan berbagai kelompok etnis dan agama. Peristiwa pendirian tempat-tempat ibadah megah di tengah kompleks pemukiman kumuh dan kemelaratan warga bukan hanya terjadi di Cina saja tetapi juga di negara-negara lain di dunia ini, termasuk Indonesia. Di Indonesia kita sering menyaksikan berbagai bangunan tempat ibadah masjid, gereja, kuil, dlsb yang sangat megah dan indah. Berbagai kelompok agama seolah berlomba-lomba membangun tempat ibadah yang megah. Berbagai ormas dan kelompok Islam berlomba-lomba membangun masjid mewah. Berbagai denominasi Kristen berlomba-lomba membangun gereja yang megah. Begitupun umat agama lain. Oleh umat beragama, khususnya kelompok elitenya, berdirinya tempat-tempat ibadah itu dijadikan sebagai ukuran, tanda, atau simbol kesuksesan beragama dan peningkatan iman kepada Tuhan. Para “juru bicara” dan “wakil” Tuhan di dunia ulama, klerik, pastor, pendeta, pandita, atau apapun namanya giat mendakwahkan atau mewartakan dan bahkan memobilisir umat mereka masing-masing untuk beribadah, bersedekah, berderma, dan beramal saleh membangun tempat ibadah yang mereka sebut sebagai “rumah Tuhan”. Pembangunan tempat ibadah tidak cukup satu atau dua tetapi kalau bisa sebanyak mungkin. Saya–mungkin juga Anda–sering menyaksikan sebuah desa atau kompleks perumahan yang memiliki banyak masjid dan musala langgar. Padahal masjid atau musala tersebut sering atau bahkan selalu kosong. Hanya beberapa gelintir saja yang salat. Masjid ramai kalau Jumat saja untuk salat Jumat. Di kompleks tempat tinggalku, di sebuah daerah di Semarang, juga terdapat setidaknya empat masjid besar yang letaknya berdekatan belum lagi ditambah musala. Keempat masjid tersebut dikenal dengan sebutan masjid Muhammadiyah, masjid NU, masjid LDII, dan masjid nasionalis. Di kampung kelahiranku yang kecil-mungil di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, juga terdapat satu masjid besar dan empat musala. Bukan hanya umat Islam saja. Umat agama lain juga sama. Umat Kristen misalnya juga berlomba-lomba membangun gereja. Masing-masing denominasi dan kongregasi bersemangat mendirikan gereja, bila perlu yang megah, untuk kelompok Kristen mereka masing-masing. Mereka tidak mau kalah dengan kelompok Kristen dari gereja-gereja lain. Pembangunan “Rumah Tuhan” itu Tidak Penting? Pembangunan atau pendirian rumah ibadah oleh pemeluk agama sebagai tempat melakukan aktivitas ritual-keagamaan tentu saja hal yang sangat wajar. Dari masyarakat suku yang tinggal di daerah pelosok terpencil hingga masyarakat modern di kota-kota metropolitan memiliki tempat-tempat ibadah, bagi yang beragama tentunya. Manusia bukan hanya “makhluk ekonomi” economic man atau “makhluk politik” political man tetapi juga “makhluk spiritual” spiritual man. Pembangunan tempat-tempat ibadah itu dianggap sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan religi-spiritual umat manusia itu. Tetapi, jika umat beragama terus-menerus membangun tempat ibadah secara berlebihan tentu saja tidak wajar dan tidak bisa dibenarkan. Apalagi membangun tempat-tempat ibadah yang megah atau bahkan supermegah yang indah di tengah kemiskinan warga dan sesaknya ekonomi umat tentu saja sangat dan lebih tidak wajar dan tidak dibenarkan lagi, dan oleh karena itu pandangan dan pemikiran seperti ini perlu dikaji ulang, dipikir lagi, dan direnungkan kembali. Daripada untuk mendirikan “rumah Tuhan” yang megah, uang atau harta, benda tersebut akan lebih bermanfaat dan berdaya guna jika dipakai untuk membangun sarana-prasarana yang bisa membantu mewujudkan atau meningkatkan kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, tempat tinggal; kesehatan; pendidikan; air bersih; dlsb. Lagi pula, apakah benar pembangunan tempat-tempat ibadah yang mentereng itu “dihadiahkan” kepada Tuhan? Dengan kata lain, betulkah tempat-tempat ibadah megah itu sebagai “rumah” Tuhan? Jangan-jangan pembangunan tempat-tempat ibadah yang megah itu bukan untuk “rumah” atau “kediaman” Tuhan, melainkan untuk rumah/kediaman para “wakil”-Nya atau “penyambung lidah”-Nya? Mereka hanya memakai Tuhan untuk dalih, stempel, dan atas nama saja. Tuhan yang “Maha Kaya” tentu saja tak perlu dibuatkan rumah megah oleh hamba-hamba-Nya yang jelata yang setiap saat berdoa dan meminta belas kasihan kepada-Nya. Selamat berefleksi. Penulis Sumanto Al Qurtuby adalah Direktur Nusantara Institute; dosen antropologi budaya di King Fahd University of Petroleum & Minerals, Arab Saudi; Visiting Senior Scholar di National University of Singapore, dan kontributor di Middle East Institute, Washington, Ia memperoleh gelar doktor PhD dari Boston University. Selama menekuni karir akademis, ia telah menerima fellowship dari berbagai institusi riset dan pendidikan seperti National Science Foundation; Earhart Foundation; the Institute on Culture, Religion and World Affairs; the Institute for the Study of Muslim Societies and Civilization; Oxford Center for Islamic Studies, Kyoto University’s Center for Southeast Asian Studies, University of Notre Dame’s Kroc Institute for International Peace Studies; Mennonite Central Committee; National University of Singapore’s Middle East Institute, dlsb. Sumanto telah menulis lebih dari 25 buku, puluhan artikel ilmiah, dan ratusan esai popular, baik dalam Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia yang terbit di berbagai media di dalam dan luar negeri. Di antara jurnal ilmiah yang menerbitkan artikel-artikelnya, antara lain, Asian Journal of Social Science, International Journal of Asian Studies, Asian Perspective, Islam and Christian-Muslim Relations, Southeast Asian Studies, dlsb. Di antara buku-bukunya, antara lain, Religious Violence and Conciliation in Indonesia London Routledge, 2016 dan Saudi Arabia and Indonesian Networks Migration, Education and Islam London & New York Tauris & Bloomsbury. *Setiap tulisan yang dimuat dalam DWNesia menjadi tanggung jawab penulis. *Tulis komentar Anda di kolom di bawah ini.
SURABAYA- Salah satu lokasi di Surabaya yang masih lumayan ramai pengunjung selama pandemi ini adalah 6 tempat ibadah berjejer yang berada di Perumahan elite Royal Residence, Kota Surabaya. 6 tempat ibadah berjejer ini sudah diresmikan menjadi tempat ibadah yang saling berdekatan tanpa sekat.. Tempat ibadah satu ini sangat terkenal bahkan ke daerah-daerah di luar Kota Surabaya.
Ciamis - Bupati Ciamis Herdiat Sunarya meresmikan Kampung Lebak, Kelurahan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, sebagai Kampung Kerukunan, Kamis 21/4/2022.Di kampung ini terdapat empat rumah ibadah yang saling berdampingan. Keempatnya yaitu Masjid Jami Al Muhajidin, Gereja Katolik Santo Yohanes, Kelenteng Hok Tek Bio, dan Litang Khonghucu. Warga di Kampung Lebak ini tetap menjaga kerukunan umat beragama selama puluhan tahun. Kegiatan launching Kampung Kerukunan digelar di halaman Gereja Katolik Santo Yohanes. Ditampilkan berbagai kesenian, seperti barongsai, qasidah dan berbagai jenis tarian dari seluruh Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan launching Kampung Kerukunan ini sebagai upaya menjaga dan memelihara warisan leluhur. Sejak dulu, orang tua sudah menanamkan sikap kerukunan antar umat beragama yang terjaga sampai sekarang. "Sebetulnya ini adalah warisan leluhur kita. Saya sebagai orang Ciamis ingat persis, sejak 60 tahun lalu sudah seperti ini," ujar Herdiat Kampung Kerukunan di Ciamis. Foto Dadang Hermansyah/detikJabarSetelah diresmikan, Kampung Kerukunan ini diharapkan bisa mengangkat dan jadi contoh untuk daerah lainnya. Persatuan harus tetap dipelihara dan dijaga."Ini sebagai bukti bahwa kita bersama bersatu. Buktikan kepada semua di Ciamis tidak ada arogan dan anarkis. Kalau ada yang bilang Ciamis arogan dan anarkis itu salah. Orang Ciamis cinta damai," tegas depan, Herdiat berharap Kampung Kerukunan ini bisa lebih baik lagi dan masyarakat bisa lebih sejahtera. Mereka juga diharapkan terus menjaga dan memelihara budaya itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama FKUB Ciamis Koko Komarudin mengatakan Ciamis kini memiliki dua kampung kerukunan. Pertama di Kampung Susuru, Desa Kertajaya, Panawangan. Kedua adalah Kampung Lebak, Kelurahan Ciamis."Kekayaan dan keragaman kampung ini merupakan contoh kehidupan menghargai menguatkan satu sama lain yang patut diteladani masyarakat dunia," kerukunan dan suasana damai di Kampung Lebak sudah menjadi tradisi dan karakter asli warga Ciamis. Kerukunan umat beragama telah menjadi isu global dalam mewujudkan perdamaian dunia."Ke depan berbagai kegiatan kebersamaan akan dilaksanakan untuk kemaslahatan. FKUB berharap ini mampu jadi inspirasi dunia dan menjadi edukasi kemasyarakatan majemuk dan wisata religi," pungkasnya. Simak Video "Lantunan Al Fatihah dari Wanita ODGJ di Majalengka" [GambasVideo 20detik] ors/bbn
. 8ptl1yb7qc.pages.dev/1018ptl1yb7qc.pages.dev/4098ptl1yb7qc.pages.dev/2188ptl1yb7qc.pages.dev/928ptl1yb7qc.pages.dev/1258ptl1yb7qc.pages.dev/1378ptl1yb7qc.pages.dev/3038ptl1yb7qc.pages.dev/376
letak dua tempat ibadah yang berdekatan membuktikan bahwa